Kenanganku Yang Kelabu | Cerita Panas

882 views

Kenanganku Yang Kelabu | Cerita Panas

  Kenanganku Yang Kelabu | Cerita Panas coollove.biz situs terbaik dan terpecaya dalam semua situs Panas diseluruh pelosok negeri. selamat Kenanganku Yang Kelabu nikmati dibawah ini: Cerita Dewasa - Síang ítu cuaca mendung menambah díngín dalam kamarku, kulangkahkan kakíku menuju kamar mandí. Masíh terbayang píjatan majíkanku tadí síang, begítu takut, aneh dan juga níkmat, terus terang íní pengalamanku yang pertama dímana tubuhku díjamah tangan lakí-lakí. Rasa yang menjalar dí semua porí-porí kulít, kurasakan keanehan yang terjadí dalam tubuhku yang berujung pada suatu keníkmatan. Aku bíngung dan bertanya-tanya, apakah yang terjadí dalam díríku? Ketíka dí dalam kamar mandí, betapa kagetnya aku, kulíhat celana dalamku dalam keadaan basah, padahal tadí tídak merasa íngín buang aír, kenapa basah? Setelah aku cíum ternyata tídak berbau, aír apa yang keluar? Sebelum kulanjutkan cerítaku íní, perkenalkan namaku Meník, umurku mengínjak 18 tahun dan aku anak bungsu darí líma bersaudara yang kesemuanya waníta. Kakak-kakakku juga bekerja sebagaí pembantu rumah tangga, íbuku sudah tíada sejak aku berusía dua tahun, sehíngga ayahku meníkah lagí tetapí tídak mempunyaí keturunan. Ketíka kakak-kakakku pergí merantau, tínggal aku bersama ayah dan íbu tíríku dí desa terpencíl pantaí utara Jawa Tengah. Sejak setahun lalu aku bekerja pada sebuah keluarga muda dengan satu orang putrí yang baru berusía dua tahun. Majíkan perempuanku yang kupanggíl íbu adalah seorang karyawatí, sedang majíkan lakí-lakíku seorang pegawaí negerí sebuah ínstansí pemeríntah. Kehídupan dí dalam rumah tangga majíkanku dapat díkatakan harmonís, ítu yang membuatku kerasan tínggal bersama mereka. íbu majíkan seorang waníta yang baík, begítu pula dengan suamínya. Harí Sabtu dímana íbu bekerja, sedang bapak setíap Sabtu dan Mínggu líbur. Dí rumah tínggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tídak enak badan sejak hujan-hujanan kemarín waktu aku pergí ke pasar. padahal malam harínya aku sudah mínum obat, tetapí híngga pagí harí íní aku merasa sakít dísekujur tubuh. Walau begítu tetap kupaksakan dírí untuk bekerja, karena sudah kewajíbanku seharí-harí dalam keluarga íní. Setelah anaknya tídur, kurebahkan díríku dí kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayup-sayup kudengar bapak memanggíl namaku, tetapí karena badan íní terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkít, sampaí bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melíhat kondísíku, díhampírínya aku dan duduk dítepí ranjang. Aku berusaha untuk bangkít walau kepala íní sepertí díbebaní ríbuan batu, tíba-tíba tangan bapak menyentuh dahíku kemudían merengkuh bahuku untuk memíntaku tíduran kembalí. Bapak bílang kalau tubuhku demam, kemudían día memíjít keníngku, mataku terpejam meníkmatí píjítan ítu, terasa sakít dí kepala dan lemas sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun menurutínya. Kuraskana kaín bajuku dísíngkap ke atas oleh bapak, kemudían talí pengaít behaku dícopotnyanya. Aku terkejut, tetapí karena lemas aku pasrah saja, kurasakan píjítan bapak dípunggungku. Dísínlah awal keanehan ítu terjadí. Walaupun kondísí demam, tetapí perasaan ítu tetap saja kurasakan, begítu hangat, begítu damaí, begítu takut dan akhírnya begítu níkmat, mata kupejamkan sambíl meníkmatí píjatan bapak. Umur bapak sudah tígapuluhan dan kuakuí kalau bapak mempunyaí wajah yang awet muda. Dísaat aku merasakan píjítan bapak, tíba-tíba kurasakan resluítíng celana pendekku dí belakang díturunkan oleh bapak. Aku íngín berontak dan membalíkkan badan, tetapí dítolak oleh bapak dengan mengatakan bahwa bagían bawahpun harus dípíjat, akhírnya aku mengalah walau dísertaí rasa malu saat bapak melíhat pantatku. Jujur, yang ada dí dalam benakku tídak ada prasangka laín selaín aku dípíjít bapak. Setelah agak lama, bapak menyudahí píjítannya dan aku díberí lagí obat demam yang segera kumínum, bapak kemudían menínggalkan kamarku. Sebelum tídur kuputuskan ke kamar mandí untuk buang aír kecíl. Sepertí yang telah aku cerítakan dí atas, bahwa celana dalamku basah, dan ternyata bukan pípís. Aku raba dan rasakan ternyata berlendír dan agak lengket, aku tídak tahu hubungan basah íní dengan píjatan bapak tadí. Aku tak mampu berpíkír jauh, setelah darí kamar mandí, kuputuskan untuk tídur dí kamar. Sore harí gerímís turun, ketíka aku tídur, síang tadí íbu majíkan dan anaknya pergí kerumah famílí serta mengínap dí sana karena ada hajatan, sementara bapak tínggal dí rumah sebab besok Mínggu ada acara dí komplek. Setelah sesíang tadí aku tídur, kurasakan tubuhku agak mendíngan, mungkín karena pengaruh obat turun demam yang aku mínum tadí, sehíngga aku beraní untuk mandí walau dengan aír hangat. Selesaí mandí terdengar suara bapak darí ruang TV memanggíl namaku, aku bergegas kesana. Bapak menanyakan keadaanku yang kujawab sudah baíkan. kemudían bapak menyuruhku membuatkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhídangkan dí meja depan bapak, kemudían bapak menyuruhku duduk dí bawah depan tempat duduk bapak, kuturutí períntahnya. Ternyata bapak sedang meníkmatí TV, kemudían bapak memegang pundaku serta memíjít perlahan-lahan dan bertanya apakah píjítannya enak, kujawab enak sekalí sembarí tersenyum, sembarí tetap memíjat pundakku kamí berdua membísu sambíl menonton TV. Lama-kelamaan perasaan aneh ítu menjalar lagí, aku merasakan sesuatu yang laín, yang ku tak paham perasaan apa íní, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang. Tíba-tíba kurasakan hembusan nafas dí sampíng leherku, aku melírík, ternyata wajah bapak telah sampaí dí leherku, aku merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar kesemua tubuhku, aku tídak berontak, aku takut, tetapí getaran-getaran aneh ítu kurasakan begítu níkmat híngga tanpa kusadarí kumírngkan kepalaku seakan memberí keleluasaan bapak untuk mencmbunyanya. Tak terasa aku memejamkan mata dan meníkmatí setíap usapan bíbír serta lídah bapak dí leherku. Getaran ítu kíní menjalar darí leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tídak mempunyaí beban, terasa ríngan sekalí seolah terbang. Otakku seakan buntu, tídak dapat berpíkír jerníh, yang kutahu aku mengíkutí saja karena pengalaman íní belum pernah aku rasakan seumur hídup, antara takut dan níkmat. Tangan bapak masíh memíjat pundakku sementara día masíh mencumbuí leherku, tak lama kemudían kurasakan tangan ítu meraíh kancíng baju depanku dan membukanya satu persatu darí atas ke bawah. Setelah semua kancíng bajuku terlepas, kembalí tangan bapak memíjat bahuku, semua ítu aku rasakan dengan melayang-layang, perlahan tapí pastí kedua tangan bapak menyentuh ke dua payudaraku, aku kaget. Kedua tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membísíkkan supaya aku meníkmatí saja píjítannya, tanganku akhírnya terlepas darí tangan bapak. Lagí-lagí kurasakan sesuatu getaran aneh, hanya getaran íní lebíh dahsyat darí yang pertama, payu daraku díremas tepatnya darípada dípíjít, walau masíh memakaí bh. Kemudían tangan bapak kembalí kepundakku, ternyata díturunkannya talí bhku, perlahan-lahan díturunkan sebatas lengan, sementara cíuman bapak masíh dí leher, kadang leher kírí, kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dímana kedua tangan bapak meraíh payudaraku darí bagían atas turun ke bawah, sesampaí dí putíngku remasan berubah menjadí pílínan dengan jarí, aku sempat membuka mata, tetapí hanya sesaat, getaran aneh berubah menjadí sengatan. Sengatan keníkmatan yang baru íní kualamí, dípílín-pílínnya kedua putíngku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan. Secara tídak kusengaja, tangan kíríku meraba celana dalamku sendírí, kurasakan gatal dísekítar kemaluaku, ternyata kemaluanku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudían menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. Setelah dídesak aku menjawab malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa ítu bukan ompol, lalu bapak berdírí dan membímbíngku duduk dí sofa.Baca selengkapnya

Kenanganku Yang Kelabu | Cerita Dewasa

Tags: #Bokep online

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs