Selingkuh Itu Nikmat | Cerita Dewasa

947 views

Selingkuh Itu Nikmat | Cerita Dewasa

  Selingkuh Itu Nikmat | Cerita Dewasa coollove.biz situs terbaik dan terpecaya dalam semua situs Panas diseluruh pelosok negeri. selamat Selingkuh Itu Nikmat nikmati dibawah ini: Cerita Dewasa - Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja dí sebuah ínstansí pemeríntahan dí kota S, selaín juga memílíkí sebuah usaha wíraswasta. Sebetulnya aku sudah meníkah, bahkan rasanya ístríku tahu akan hobíku mencarí daun-daun muda untuk "obat awet muda". Dan memang pekerjaanku menunjang untuk ítu, baík darí segí koneksí maupun darí segí fínansíal. Namun semenjak ístríku tahu aku memílíkí banyak sekalí símpanan, suatu harí ía menínggalkanku tanpa pamít. Bíarlah, malah aku bísa lebíh bebas menyalurkan hasrat. Karena pembantu yang lama keluar untuk kawín dí desanya, aku terpaksa mencarí penggantínya dí agen. Bukan saja karena berbagaí pekerjaan rumah terbengkalaí, juga rasanya kehílangan "obat stress". Salah seorang calon yang menarík perhatíanku bernama Níngsíh, baru berusía (hampír) 16 tahun, berwajah cukup manís, dengan lesung pípít. Matanya sedíkít sayu dan bíbírnya kecíl seksí. Seandaínya kulítnya tídak sawo matang (meskípun bersíh dan mulus juga), día sudah míríp-míríp artís sínetron. Meskípun mungíl, bodínya padat, dan yang terpentíng, darí síkapnya aku yakín pengalaman gadís ítu tídak sepolos wajahnya. Tanpa banyak tanya, langsung día kuteríma. Dan setelah beberapa harí, terbuktí Níngsíh memang cukup cekatan mengurus rumah. Namun beberapa kalí pula aku memergokínya sedang síbuk dí dapur dengan mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat míní. Tanpa menyía-nyíakan kesempatan, aku mendekat darí belakang dan kucubít paha gadís ítu. Níngsíh terpekík kaget, namun setelah sadar majíkannya yang berdírí dí belakangnya, ía hanya merengut manja. Sore íní sepulang kerja aku kembalí díbuat melotot dísuguhí pemandangan yang 'menegangkan' saat Níngsíh yang hanya berdaster típís menunggíng sedang mengepel lantaí, pantatnya yang montok bergoyang kírí-kanan. Tampak garís celana dalamnya membayang dí balík dasternya. Tídak tahan membíarkan pantat seseksí ítu, kutepuk pantat Níngsíh keras-keras. "Ngepel atau nyanyí dangdut síh? Goyangnya kok merangsang sekalí!" Níngsíh terkíkík gelí mendengar komentarku, dan kembalí meneruskan pekerjaannya. Dengan sengaja pantatnya malah dígoyang semakín keras. Gelí melíhat tíngkah Níngsíh, kupegang pantat gadís ítu kuat-kuat untuk menahan goyangannya. Saat Níngsíh tertawa cekíkíkan, jempolku sengaja mengelus selangkangan gadís ítu, menghentíkan tawanya. Karena díam saja, perlahan kuelus paha Níngsíh ke atas, menyíngkapkan ujung dasternya."Eh.. Ndoro.. jangan..!" cegah Níngsíh líríh. "Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!" "Jangan, Ndoro.. malu.. jangan sekarang..!" Dengan tergesa Níngsíh bangkít membereskan ember dan kaín pel, lalu bergegas menuju ke dapur. Malam harínya lewat íntercom aku memanggíl Níngsíh untuk memíjat punggungku yang pegal. Seharían penuh bersídang memang membutuhkan stamína yang príma. Agar tenagaku pulíh untuk keperluan besok, tídak ada salahnya memberí pengalaman pada orang baru. Gadís ítu muncul masíh dengan daster merah típísnya sambíl membawa mínyak gosok. Níngsíh duduk dí atas ranjang dí sebelah tubuhku. Sementara jemarí lentík Níngsíh memíjatí punggung, kutanya, "Nduk, kamu sudah punya pacar belum..?" "Dísíní belum Ndoro.." jawab gadís ítu. "Dísíní belum..? Berartí dí luar síní sudah..?" Sambíl tertawa malu-malu gadís ítu menjawab lagí, "Dulu dí desa saya pernah, tapí sudah saya putus." "Lho, kenapa..?" "Habís mau enaknya saja día." "Mau enaknya saja gímana..?" kejarku. "Eh.. ítu, ya.. maunya ngajak gítuan terus, tapí kalau díajak kawín nggak mau." Aku membalíkkan badan agar dadaku juga turut dípíjat. "Gítuan gímana? Memangnya kamu nggak suka..?" Wajah Níngsíh memerah, "Ya.. ítu.. ngajak kelonan.. tídur telanjang bareng.." "Kamu mau aja..?" "íh, enggak! Kalau cuma dísuruh ngemut burungnya saja síh nggak pa-pa. Mau sampaí selesaí juga boleh. Tapí yang laín Níngsíh nggak mau..!" Aku tertawa, "Lha apa nggak belepotan..?" "Ah, enggak. Yang pentíng Níngsíh juga puas tapí tetep perawan." Aku semakín terbahak, "Kalau kamu juga puas, terus kenapa díputus..?" "Abís lama-lama Níngsíh kesel! Níngsíh kalau díajak macem-macem mau, tapí día díajak kawín malah maín mata sama cewek laín! Untung Níngsíh cuma kasíh emut aja, jadí sampaí sekarang Níngsíh masíh perawan." "Maín emut terus gítu apa kamu nggak pengín nyoba yang beneran..?" godaku. Wajah Níngsíh kembalí memerah, "Eh.. katanya sakít ya Ndoro..? Terus bísa hamíl..?" Kíní Níngsíh berlutut mengangkangí tubuhku sambíl menggosokkan mínyak ke perutku. Saat gadís ítu sedíkít membungkuk, darí balík dasternya yang longgar tampak belahan buah dadanya yang montok alamí tanpa penopang apapun. Sambíl tanganku mengelus-elus kedua paha Níngsíh yang terkangkang, aku menggoda, "Kalau sama Ndoro, Níngsíh ngasíh yang beneran atau cuma díemut..?" Pípí Níngsíh kíní merah padam, "Mmm.. memangnya Ndoro mau sama Níngsíh? Níngsíh kan cuma pembantu? Cuma pelayan?" "Nah íní namanya juga melayaní. íya nggak?" Níngsíh hanya tersenyum malu. "Aaah! ítu kan cuma jabatan. Yang pentíng kan orangnya..!" "Ehm.., kalau hamíl gímana..?" "Jangan takut Nduk, kalau cuma sekalí nggak bakalan hamíl. Nantí Ndoro yang tanggung jawab.." Meskípun sedíkít ragu dan malu, Níngsíh menurutí dan menanggalkan dasternya. Sambíl meletakkan pantatnya dí atas pahaku, gadís ítu dengan tersípu menyílangkan tangannya untuk menutupí kemontokan kedua payudaranya. Untuk beberapa saat aku memuaskan mata memandangí tubuh montok yang nyarís telanjang, sementara Níngsíh dengan jengah membuang wajah. Dengan tídak sabaran kutarík pínggang Níngsíh yang melíuk mulus agar ía berbaríng dí sísíku. Seumur hídup mungkín baru sekalí íní Níngsíh merasakan berbaríng dí atas kasur seempuk íní. Langsung saja kusergap gadís ítu, kucíumí bíbírnya yang tersenyum malu, pípínya yang lesung pípít, menggerayangí sekujur tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang kenyal menggíurkan. Putíng susunya yang kemerahan terasa keras mengacung. Kedua payudara gadís ítu tídak terlalu besar, namun montok pas segenggaman tangan. Dan kedua bukít ítu berdírí tegak menantang, tídak menggantung. Gadís desa íní memang sedang ranum-ranumnya, síap untuk dípetík dan díníkmatí. "Mmmhh.. Oh! Ahh! Oh.. Ndoroo.. eh.. mm.. burungnya.. mau Níngsíh emut dulu nggak..?" tanya gadís ítu díantara nafasnya yang terengah-engah. "Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh emut." Tersípu Níngsíh bangkít, lalu memelorotkan celana dalamnya híngga kíní gadís ítu telanjang bulat. Perlahan Níngsíh berlutut dí sísíku, meraíh kejantananku dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambíl menyíbakkan rambutnya, gadís ítu sedíkít terbelalak melíhat besarnya kejantananku. Mungkín ía membayangkan bagaímana benda berotot sebesar ítu dapat masuk dí tubuhnya. Aku segera merasakan sensasí yang luar bíasa ketíka Níngsíh mulaí mengulum kejantananku, memaínkan lídahnya dan menghísap dengan mulut mungílnya sampaí pípínya 'kempot'. Gadís íní ternyata píntar membuat kejantananku cepat gagah. "Ehm.. srrp.. mm.. crup! Ahmm.. mm.. mmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas(jangan keras-keras)..! Srrp..!" Gadís ítu tergelíat dan memprotes ketíka aku meraíh payudaranya yang montok dan meremasínya. Namun aku tak perdulí, bahkan tangan kananku kíní mengelus belahan pantat Níngsíh yang bulat penuh, terus turun sampaí ke bíbír kemaluannya yang masíh jarang-jarang rambutnya. Maklum, masíh perawan.Baca selengkapnya

Selingkuh Itu Nikmat | Cerita Dewasa

Tags: #Bokep online

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs